MY DIARY

August 21, 2005

Menikmati Malam di Love River

Taiwan membangun Love River, wisata sungai bak tur di Venesia tiga tahun lalu.

Hari sudah malam saat saya tiba di Bandara Internasional Kaohsiung, Taiwan Selatan. Meski langit mulai gelap, udara masih terasa hangat. Maklum, Taiwan di awal Juli itu memang sedang musim panas.

Sebelum berangkat, Chang Pong, Direktur Divisi Informasi Pers Taipei Economic and Trade Office di Jakarta, sudah mengingatkan betapa panas dan lengketnya cuaca di pertengahan tahun di Taiwan. Suhu di pagi hari saja bisa mencapai 28 derajat Celsius. Siang, bisa dibayangkan betapa teriknya mentari membakar.

Hari itu saya tak perlu mencari taksi untuk menuju jantung Kota Kaohsiung, kota terbesar kedua di Taiwan. Seseorang sudah menunggu dengan bus untuk membawa saya bersama rombongan wartawan dari beberapa negara Asia menuju Hotel Ambasador. Tempat kami menginap dan menghadiri konferensi ini berada di Min Sheng Second Road.

Malam itu saya hanya datang ke acara makan malam ala Taiwan, dengan menu berderet yang semuanya ditulis dalam bahasa Mandarin. Untungnya, makanannya enak dan kebanyakan makanan laut. Jadi, okelah. Selebihnya, istirahat.

Lelah juga perjalanan lewat udara, meski Taipei-Kaohsiung cuma ditempuh dalam waktu satu jam. Bayangkan jika saya harus naik bus atau kereta api, yang butuh waktu sekitar empat jam. Saya baru mulai menikmati keelokan kota berpenduduk 1,5 juta jiwa ini pada sore esok harinya.

Ray Chang dan Tonny Liu, rekan kami dari Asosiasi Jurnalis Taiwan (ATJ), sudah memberi kami rekomendasi sejumlah tempat yang layak dikunjungi di Kaohsiung. Brosur yang disediakan Pemerintah Kota Kaohsiung juga memberi banyak panduan ke mana kami harus datang untuk menikmati keindahan dan kenyamanan kota pelabuhan ini.

Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Love River. Sungai selebar sekitar 200 meter itu membelah kota, yang kemudian bermuara di Pelabuhan Kaohsiung. Dari jendela hotel tempat saya menginap, keindahan sungai yang tersohor itu dapat saya intip dengan leluasa. Saya hanya butuh waktu lima menit jalan kaki untuk sampai ke sungai kebanggaan warga Kaohsiung ini.

Siang hari, sungai ini seperti selokan yang bersih berwarna hijau jernih di halaman kota. Tak ada sampah. Pedestriannya indah. Airnya bening. Di sisi Utara dan Selatan, terdapat taman kota dan kafe, yang tertata apik dan rapi. Tak banyak orang berlalu-lalang karena sinar matahari yang menyengat.

Malam harinya, saya mulai menyusuri Love River melalui pedestrian di sisi Timur sungai. Ternyata Love River lebih indah di waktu malam.

Memandang ke sisi barat sungai, lampu-lampu bersinar aneka warna menghiasi dua jembatan besar, ditambah lagi cahaya lampu kafe-kafe sepanjang sisi sungai. Terang dan gemerlap. Cahaya yang memantul dari permukaan air membuat sungai seperti lautan warna.

Tak cukup memang jika hanya melihat dari pinggiran. Kita perlu naik perahu untuk bisa menikmati Love River yang bermandikan cahaya. Perahu yang dikelola Departemen Transportasi Publik Kota Kaohsiung itu tersedia di sisi barat dan timur. Untuk itu, kita mesti merogoh kocek NT$ 50.

Tapi, alamak, antreannya sudah mengular panjang. "Tenang saja," ujar Jaime, satu dari dua belas mahasiswi jurusan bahasa Inggris sebuah kampus di Kaohsiung yang bertindak sebagai pemandu dan penerjemah kami. "Kita pasti tak perlu antre karena kita tamu wali kota. Aduh, mudah-mudahan saya bisa bersalaman dengan dia," katanya berharap dengan mata berbinar.

Saya tersenyum dan Jaime benar, kami tak perlu capek mengantre, sudah tersedia dua perahu untuk rombongan jurnalis dari sekitar 10 negara di Asia Pasifik itu.

Di atas perahu, saya memandang sekeliling sembari sesekali mendengar penjelasan dari awak perahu yang menerangkan sejarah sungai ini. Petugas menuturkan cerita dan penjelasan dalam bahasa Mandarin. Saya beruntung duduk di sebelah Tiffany, penerjemah dan teman sekelas Jaime, yang dengan fasih menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.

Kata Tiffany, nama Love River bermula dari kisah tragis sepasang muda-mudi beberapa tahun lalu. Kisah kasih dua sejoli itu tak direstui kedua orang tuanya. Mereka pun nekat bunuh diri di sungai ini.

Kasus itu mengundang perhatian banyak media, baik cetak maupun elektronik dari seantero Taiwan. Karena tak tahu nama sungainya, mereka menyebutnya Love River. Sejak itulah Love River dipopulerkan sebagai nama sungai ini.

Kami melayari Love River selama 30 menit dan melewati dua jembatan berhias cahaya. Perahu kami sempat berhenti sejenak di jembatan kedua untuk menikmati atraksi Air Mancur Pelangi, tempat air mancur menari-nari di bawah sorotan lampu warna-warni. Rekan saya dari Filipina sibuk memotret atraksi yang cuma digelar di akhir pekan itu.

Menurut Julie Sung, penerjemah kami yang berwajah melankolis, sungai ini sangat populer dan menjadi tempat favorit pasangan muda, terutama di hari libur. Di sini mereka bisa menikmati sungai, memancing, atau nongkrong di kafe. Pada Sabtu atau Minggu, gemerlap malam bisa dinikmati hingga pagi hari.

Padahal sebagaimana diungkapkan oleh Julius Yen, Vice Editor-in-Chief ETTV, jaringan TV terbesar kedua di Taiwan, wisata sungai bak tur di Venesia itu baru dibangun kurang dari tiga tahun lalu. "Tapi langsung ramai karena letaknya sangat strategis," tutur Julius.

Bukan hanya suasana sungai yang bisa dinikmati di areal ini. Di sisi utara, terdapat beberapa tempat yang layak dikunjungi, antara lain Kaohsiung Municipal Film Archives, Music Center, dan Kohsiung Museum of History. Meski sebenarnya cuma butuh waktu sekitar lima menit untuk menjangkaunya, saya tak bisa masuk karena ketiganya sudah tutup sejak pukul lima sore.

Saya pun bersama sejumlah kawan memilih bergabung dengan ratusan orang yang memenuhi Riverside Mambo Kafe. Ini salah satu kafe terbuka yang ada di sisi barat Love River. Ditemani secangkir oolong tea dan roti cokelat yang legit, saya menikmati langit penuh bintang sampai menjelang pagi. Tentu saja dengan diiringi musik dan lagu pop Taiwan dari penyanyi di tengah kafe.

Malam hari di Kaohsiung tak membuat udara sejuk. Saya sempat heran melihat butiran air yang tampak menyembur dari bawah di berbagai sudut kafe. "Agar lebih segar," kata Julius. Kaohsiung memang sedang panas, bahkan di malam hari.

Keesokan harinya saya mengunjungi National Science and Technology Museum di Jioru 1st Road. Seperti namanya, museum yang berada di Sanmin District ini merekam semua perkembangan teknologi negara tersebut. Museum ini tak sulit dicari karena merupakan salah satu landmark Kota Kaohsiung.

Dari Kaohsiung Trains Station, kita bisa naik bus nomor 60 atau 70. Kalau dari Kaohsiung International Airport, kita mesti naik bus atau taksi ke Kaohsiung Trains Station dulu. Atau bisa saja kita langsung naik taksi, melewati jalan bebas hambatan, kemudian berbelok di Jioru 1st Road. Cuma, ongkos naik taksi lumayan mahal.

Museum ini terbagi menjadi dua area. Sisi utara menjadi ruang besar untuk pameran. Sisi selatan digunakan untuk perpustakaan, ruang konferensi, dan tempat penyimpanan. Museum ini buka mulai Senin sampai Jumat, dari pukul 09.00 sampai 16.00 waktu setempat.

Ada dua tempat yang menarik perhatian saya. Pertama, teater tiga dimensi. Kedua, simulator gempa. Untuk menikmati kecanggihan teknologi tiga dimensi, kita mesti merogoh kocek NT$ 150 untuk orang dewasa. Untuk pelajar, cukup NT$ 70. Sayangnya, saat saya datang, museum itu sebenarnya sedang tutup setelah melayani pengunjung di hari libur sehari sebelumnya.

Di lokasi simulator gempa, saya tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencobanya. Sebab, tak semua orang pernah merasakan gempa dahsyat seperti yang pernah menimpa negara ini pada 21 September 1999. Gempa berkekuatan 6,8 skala Richter ini menewaskan sekitar 2.000 orang dan 4.000 terluka.

Simulator dibuat seperti aslinya, bahkan ada kompor gas lengkap dengan api yang menyala. Setelah mencoba simulator, rekan saya dari Australia berkomentar, "Bukankah sudah cukup banyak gempa di negaramu?"

Lebih kurang satu jam, kami menghabiskan waktu di museum. Tujuan berikutnya adalah Lotus Lake di Cueihua Road, Zuoying District. Di hari yang cerah, banyak orang tua dan muda Kaohsiung berjalan-jalan di sekitar danau seluas 24 hektare ini untuk menikmati kesegarannya.

Dari kejauhan, terlihat kuil Confucius menjulang. Kuil yang dibangun sejak 1977 ini merupakan kuil Confucius terbesar di Taiwan. Ruang utama kuil ini meniru Taihe Hak di Imperial Palace di Beijing. Tarian asli bertajuk Bayi dipertunjukkan dalam sebuah festival di setiap musim panas untuk menghormati Confucius.

Tak jauh dari kuil Confucius, terdapat Dragon-Tiger Tower. Untuk masuk, kita melalui menara yang pintunya bergambar naga. Keluarnya di kuil bergambar singa. Tony Liu, kolega dari Taiwan, mengatakan bahwa ini mengibaratkan kita masuk ke sebuah kemalangan dan keluar dengan keberuntungan.

Di Dragon-Tiger Tower ini, hari sudah beranjak sore. Inginnya sih menikmati tempat lain. Beberapa teman mengajak untuk pergi ke pasar malam (night market).

Seperti di Taipei, pasar-pasar begini menjadi lokasi yang paling dicari setiap orang asing yang datang ke daerah ini. Salah satu pasar malam terkenal di daerah ini adalah Liouhe, yang berada di Zihli Second Road. Di sini, detak kehidupan mulai terasa mulai pukul 5 sore, saat lampu-lampu toko menyala dan pedagang membuka tenda.

Lokasinya juga nyaman. Hanya ada pejalan kaki karena kendaraan tak boleh masuk. Di ruas sepanjang 200 meter itu tersedia aneka makanan ala Taiwan. Letaknya hanya sekitar tiga blok dari Love River.

Hari itu saya tak bisa ke Zihli karena ada janji bertemu dengan kawan. "Cukuplah ke pasar malam Shilin di Taipei," celetukku dalam hati.

Sebetulnya saya juga ingin ke Kaohsiung Museum of History di Yancheng District, Kaohsiung City Culture Center di Lingya District, dan The Tower of Light di Sanmin District. Tapi waktu 2 x 24 jam terasa sangat singkat dan besok pagi sekali kami sudah harus berangkat ke Taipei untuk kemudian meneruskan perjalanan pulang kembali ke Jakarta.

Lensi Mursida (Kaohsiung)

Sumber: Minggu, 21 Agustus 2005
Rubrik: Perjalanan

posted by Abdul Manan at Sunday, August 21, 2005

August 09, 2003

Ulang Tahun AJI yang Meriah

Ulang tahun AJI, 7 Agustus kemarin, sangat meriah. Yang datang 50 orang lebih. Untuk tempat sekecil itu, jelas yang datang mesti berdesak-desakan. Saya harus mengucapkan selamat kepada Komang, PO acara itu. Apalagi, Tomy Suryopratomo (Pimred Kompas), mantan Pimred The Jakarta Pos Susanto Pudjomartono, Ketua Dewan Pers Leo Batubara, dan Anggota Dewan Etik AJI, Abdullah Alamudi, datang. Oh ya. Atase pers Kedubes AS Stanley Harsa juga ikut datang.

Yang cukup menarik juga dari acara malam itu adalah adanya acara wayang koran, yang didalangi oleh Hari Nugroho. Dia bekas kolega saya semasa jadi koresponden D&R di Surabaya. Malam itu, saya melihat dia seperti menemukan komunitasnya kembali.Maklu, semasa di Surabaya, Hari aktif di Dewan Kesenian Surabaya.

Mestinya catatan ini ditulis kemarin. Cuma, saya baru sampe kantor itu sekitar jam 24.00 WIB. Sampe di Proklamasi, saya mesti riset untuk tambahan bahan untuk nulis infografis soal bom di J.W. Marriott untuk majalah. Pukul 1, saya udah nggak kuat melawan rasa kantuk. Jadi, mana sempat nulis catatan. He.. he...
posted by Abdul Manan at Saturday, August 09, 2003